Ada Apa, Hutan di Kalsel Jadi Perhatian Negara Finlandia 

INDONESIASATU.CO.ID:

BANJARBARU - Provinsi Kalimantan Selatan dinilai mampu mengelola kawasan hutan secara berkesinambungan sehingga tata kelolanya berhasil menjaga keberlangsungan ekosistem dan lingkungan. Atas dasar itu pengelolaan kehutanan Kalimantan Selatan masuk dalam program "Join Working Group" Indonesia-Finlandia yaitu program kerja sama perencanaan pengelolaan sektor kehutanan dan upaya pelestariannya.

Hal tersebut dilontarkan Peneliti Kementerian LHK, Dr Retno Maryani, MSc, mengungkapkan Kalsel merupakan provinsi satu-satunya yang masuk dalam Program Join Working Group antara Indonesia dan Finlandia, Sabtu (25/11/2017).

Penunjukan Kalsel dalam program tersebut, karena pemerintah fokus pada perencanaan pengelolaan hutan yang kuat, limbah seminimal mungkin dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaannya.

"Join working group ini merupakan forum komunikasi meliputi beberapa stakeholder yang intinya saling membina dan mentransfer pengetahuan dan komunikasi yang bisa berjalan secara terencana dan hasilnya menghasilkan sustainable forest management di Kalimantan Selatan," jelas Retno.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel Dr Hanif Faisol Nurafiq di Banjarbaru mengatakan, salah satu program kerja sama tersebut adalah dengan mengirimkan delegasi bidang kehutanan ke Finlandia untuk belajar.

Sebagai salah satu negara yang berhasil dalam pengelolaan hutan dengan melibatkan masyarakat sebagai objek utama, Finlandia menjadi rujukan dunia internasional untuk lebih mendalami manajemen pengelolaan hutan bagi kelestarian lingkungan.

“Pemerintah Indonesia,  telah melakukan kerja sama bilateral dengan Pemerintah Finlandia yang tertuang dalam nota kesepahaman yang telah ditandatangani Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa bulan lalu,” paparnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Provinsi Kalsel melalui Dinas Kehutanan sebagai salah satu peserta yang diajak langsung oleh pemerintah untuk mempelajari tata kelola kehutanan di sana, berencana akan mengirimkan delegasi untuk sekolah di sana.

Kerja sama pemerintah tersebut salah satunya adalah dengan mengirimkan sumber daya aparatur untuk mengikuti pendidikan formal di Finlandia.

"Pendidikan di sana sangat komprehensif. Kami berencana akan mengirimkan delegasi untuk belajar ke sana baik S1, S2 dan S3 maupun kursus singkat. Kita berharap juga mendapat anggaran dari Kementerian LHK," katanya.

Menurut Kadishut, jika dibandingkan Finlandia yang memiliki empat musim, maka Kalimantan Selatan cuma mengenal dua musim, tentu sangat potensial mengembangkan pengelolaan hutan.

Di Finlandia hasil hutan baru bisa dinikmati setelah 70-90 tahun tanam, maka di Kalsel bisa 10 sampai 20 tahun saja, sehingga masa panen pun lebih singkat.

Menurut Hanif, Ada yang perlu dicontoh sistem yang telah diterapkan Finlandia, yaitu terdapat integrasi dan sinergi antara 4 pilar dalam pengelolaan hutan, yakni pemerintah, akademisi/riset, Industri dan masyarakat.

Secara terpisah, koordinator aktivis hutan Kalsel, Borneo Watch Kalsel (BWK) Gusti Aliansyah SH MH menilai, adanya perhatian hutan Kalsel dari pihak luar merupakan perhatian yang serius. “Perhatian Finlandia, agar pemangku kepentingan di Kalsel bisa menjaga lingkungan hutannya. Untuk itu semua pihak untuk bisa menahan diri tak melakukan eksploitasi dengan alasan pembangunan dan industri perkebunan. Itu cara barat menyindir kondisi hutan kita,” katanya. (nicko farizki)

  • Whatsapp

Index Berita